Oleh: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi
Salah satu sifat yang harus dimiliki
oleh seorang muslim adalah takut kepada Allah. Sifat ini akan menjaga
pemiliknya untuk tidak berbuat maksiat kepada-Nya.
Menelusuri
kehidupan untuk mencari kebahagiaan yang hakiki sungguh sangat sulit. Kita
harus melalui pertarungan-pertarungan yang sengit, jalan-jalan yang terjal dan
berjurang penuh dengan duri. Jika salah melangkah hanya akan didapati dua
kemungkinan dan tidak ada kemungkinan yang ketiga. Pertama, akan menjadi orang
yang terselamatkan sehingga selamat (dunia akhirat) dan kedua, menjadi orang
yang binasa dan celaka.
Masih
beruntung jika terselamatkan sehingga bisa kembali berjuang dengan menerjang
badai yang ganas dan dahsyat tersebut. Namun sungguh malang jika setelah
terselamatkan tidak bisa berjuang, dan tidak bisa bangkit menyelamatkan diri.
Lawan bertarung adalah sangat kuat. Itulah Iblis dan tentara-tentaranya dari
kalangan jin dan manusia serta lawan yang ada pada diri kita yang disebut
nafsu.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada yang jelek.” (Yusuf: 53)
Adapun jalan-jalan yang terjal dan berjurang serta penuh dengan duri itu adalah segala yang diharamkan Allah yang menghiasi kehidupan ini.
“Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada yang jelek.” (Yusuf: 53)
Adapun jalan-jalan yang terjal dan berjurang serta penuh dengan duri itu adalah segala yang diharamkan Allah yang menghiasi kehidupan ini.
Di
sinilah letak pentingnya rasa takut yang harus menghiasi perjuangan kita. Yang
akan membentengi diri kita dari terjatuh ke lubang yang penuh dengan duri dan
mengokohkan kita agar tidak terseret hawa nafsu yang dikendarai oleh Iblis dan
tentara-tentaranya.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Amalan hati seperti tawakkal,
takut, berharap, dan sejenisnya serta sabar adalah wajib menurut kesepakatan
para ulama.” (Al-Ikhtiyarat, hal. 85)
Kedudukan Takut dalam Agama
memberitahukan kepada kita bahwa yang
demikian ini adalah tipu daya setan dan merupakan ketakutan yang mereka
tanamkan. Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang kita untuk takut kepada
setan tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala: Takut
merupakan bentuk ibadah hati yang memiliki kedudukan agung dan mulia di dalam
agama bahkan mencakup seluruh jenis ibadah. Takut adalah salah satu dari rukun
ibadah dan merupakan syarat iman. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau
Ighatsatul Lahfan (1/30) berkata: “Termasuk dari tipu daya musuh Allah adalah
menakut-nakuti orang beriman dari bala tentara dan wali-wali mereka (wali
setan) agar orang-orang beriman tidak memerangi mereka, menyeru mereka
(orang-orang yang beriman) kepada kemungkaran dan mencegah mereka dari
kebajikan. Allah subhanahu wa ta’ala
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti kamu, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (Ali Imran: 175)
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti kamu, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (Ali Imran: 175)
Tatkala
iman seorang hamba kuat, maka akan hilang rasa takut terhadap wali-wali setan.
Dan tatkala melemah imannya akan menjadi kuat ketakutan tersebut. Maka ayat ini
(Ali Imran: 175) menunjukkan bahwa keikhlasan untuk memiliki rasa takut kepada
Allah termasuk syarat iman.”
Takut adalah Ibadah
Disamping memiliki kedudukan yang
sangat tinggi di dalam agama, ‘takut’ juga merupakan salah satu dari
perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti (kamu), karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti (kamu), karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)
“Maka janganlah kalian takut
kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44).
Dari
kedua ayat di atas dan ayat-ayat yang lain maka sungguh sangat jelas bahwa
takut itu termasuk dari ibadah, bahkan ibadah yang paling mulia. Dan Allah
tidak akan memerintahkan melainkan untuk suatu kemuliaan.
Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab beliau Al-Ushuluts Tsalatsah
mengatakan: “Macam-macam ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah seperti
Islam, Iman, dan Ihsan, dan juga termasuk berdoa, takut, berharap, tawakkal,
cinta, rahbah (salah satu jenis takut), khasyah (juga salah satu jenis takut),
khusyu’, bertaubat, meminta pertolongan, meminta perlindungan, menyembelih,
bernadzar, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diperintahkan oleh
Allah subhanahu wa ta’ala, semuanya milik Allah semata berdasarkan firman-Nya:
“Dan bahwasanya masjid-masjid
ini adalah milik Allah maka janganlah kamu berdoa kepada selain-Nya disamping
berdoa kepada Allah.” (Al-Jin: 18)
Barangsiapa berpaling sedikit saja kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala maka dia seorang musyrik dan kafir.
Barangsiapa berpaling sedikit saja kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala maka dia seorang musyrik dan kafir.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab beliau Fathul Majid
mengatakan: “Takut berkedudukan tinggi dan mulia di dalam agama dan termasuk
jenis ibadah yang banyak cakupannya yang wajib hanya diberikan kepada Allah
subhanahu wa ta’ala.”
Dalil Takut adalah Ibadah
Dalil Takut adalah Ibadah
berfirman: Allah
subhanahu wa ta’ala
“Mereka (malaikat) takut kepada Rabb mereka dan melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (An-Nahl: 50)
“Mereka (malaikat) takut kepada Rabb mereka dan melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (An-Nahl: 50)
“Orang-orang yang menyampaikan
risalah Allah mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada
seorang pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat
perhitungan.”(Al-Ahzab: 39).
“Maka janganlah kalian takut
kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 150).
berfirman: Masih
banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang takut. Adapun dari Sunnah
Rasulullah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tujuh golongan orang
yang akan mendapatkan perlindungan pada hari yang tidak ada perlindungan
kecuali perlindungan dari Allah, di antaranya seorang hamba yang “diajak” oleh
seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, dan dia mengatakan: ‘Aku
takut kepada Allah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.629 dan Muslim no. 1031 dari
hadits Abu Hurairah) Syaddad bin Aus radiallahuanhu berkata: telah berkata
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Allah subhanahu wa ta’ala
“Demi kemuliaan dan keagunganku, aku tidak akan menghimpun pada diri hamba-hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan beri rasa takut pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku. Dan jika dia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan berikan rasa aman pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku.” (HR. Abu Nu’aim dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 742)
“Demi kemuliaan dan keagunganku, aku tidak akan menghimpun pada diri hamba-hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan beri rasa takut pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku. Dan jika dia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan berikan rasa aman pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku.” (HR. Abu Nu’aim dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 742)
Macam-macam Takut
Para ulama telah membagi jenis takut
menjadi beberapa bagian, di antara mereka ada yang membagi lima, empat, dan ada
yang membagi menjadi tiga, yaitu:
Pertama, takut ibadah.
Yaitu takut yang diiringi dengan penghinaan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Kedua, takut syirik.
Pertama, takut ibadah.
Yaitu takut yang diiringi dengan penghinaan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Kedua, takut syirik.
Takut
syirik yaitu memberikan takut ibadah kepada selain Allah. Barang siapa yang
memberikannya kepada selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan yang
besar, seperti takut kepada orang mati, takut kepada dukun-dukun, takut kepada
wali-wali yang dianggap bisa memberikan manfaat dan mudharat, dsb.
Perbuatan
ini akan mengekalkan pelakunya di dalam neraka, mengeluarkannya dari Islam, dan
menghalalkan darah dan hartanya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44)
“Janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44)
Ketiga, takut tabiat. Yaitu takut kepada hal-hal yang bisa
membahayakan jiwa seseorang, seperti takut kepada musuh, binatang buas, api,
dan sebagainya. Takut jenis ini dibolehkan selama tidak melampaui
batasberfirman menceritakan kisah Nabi Musa alaihisallam: subhanahu wa ta’ala . Allah
“Dia keluar dari negerinya
dalam keadaan takut yang sangat.” (Al-Qashash: 21)
Pertanyaannya,
bagaimana hukumnya takut kepada selain Allah? Jawabannya harus dirinci. Bila
takut kepada selain Allah menyebabkan sampai menghinakan diri di hadapannya
maka termasuk syirik. Jika ketakutannya itu menyebabkan ia melakukan yang
diharamkan dan meninggalkan kewajiban maka takut ini termasuk maksiat dan
berdosa. Jika takutnya adalah takut tabiat seperti takut kepada air deras yang
bisa menghanyutkan dirinya, hartanya, atau anaknya, maka takut yang demikian
itu adalah boleh.
Wallahu
a’lam.
Sumber
bacaan:
1 Al Qur’an
2 Al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin
3 Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan
4 Al-Qaulul Mufid, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Yamani
5 Al-Ushuluts Tsalatsah, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
1 Al Qur’an
2 Al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin
3 Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan
4 Al-Qaulul Mufid, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Yamani
5 Al-Ushuluts Tsalatsah, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab







0 komentar:
Posting Komentar