Senin, 30 Juli 2012

Mengingat mati

Pentingnya mengingat mati ,dalilnya:
Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. (HR. Ad-Dailami)

Penjelasan:
Dia mati dengan mudah dan ringan pada saat sakaratul maut.

Video dari Ahsan tv nasihat mengingat mati:


“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :
1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)
2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7 8)
3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8)
4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat|
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)
Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut
Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.
Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!
Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.

Allahumma Amin..
Penjelasan Ustadz Yazid tentang haramnya pacaran





Firman Allah Subhana huwata'ala

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةًۭ وَسَآءَ سَبِيلًۭا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.(Q.S AL ISROO' ayat 32)

Wallahu a'lam  bisshowab

Bolehkah Wanita Ikut Berorganisasi?




Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Saya adalah mahasiswa baru disebuah perguruan tinggi di Jawa Tengah. Di program studi yang saya ambil (psikologi) kebanyakan siswanya adalah wanita, oleh karena itu pengurus organisasi-organisasi kampus di program studi kami pun cenderung dijalankan oleh wanita, yang mau saya tanyakan:
1.     Bolehkah wanita aktif dalam organisasi,dalam hal ini organisasi yang ingin saya masuki adalah rohis?
2.     Seberapa jauh wanita boleh ikut dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah?
3.     Batasan-batasan gerak seorang wanita itu seberapa jauh?
Sekian pertanyaan saya, saya harap Ustad bersedia menjawabnya. Saya sangat membutuhkan jawaban Ustad untuk pertimbangan langkah saya di dunia kampus yang baru saya hadapi. Terima Kasih. Jazakumullahu khair.
Jawaban Ustadz:
‘Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Wanita dibolehkan aktif dalam organisasi yang tidak bercampur dengan laki-laki, dan kegiatan organisasi tersebut tidak bertentang dengan sifat-sifat kewanitaan tetapi bergerak dalam hal membina kepribadian wanita yang sholehah, seperti dalam bidang ilmu agama (pengajian), keterampilan membina keluarga yang sakinah,
 kesehatan, dakwah dan sosial. Wanita tidak dilarang mengikuti kegiatan di luar rumah selama tidak berbaur dengan laki-laki serta dalam waktu dan tempat yang wajar, tidak dilakukan pada waktu atau pada tempat yang dapat mengundang fitnah.
Adapun batasan gerak seorang wanita, islam tidak membatasi wanita untuk keluar rumah seperti tidak boleh lebih dari sekian kali dalam sehari atau tidak boleh melebihi jarak sekian kilo meter, tetapi Islam mengatur, kalau keluar rumah harus menutup aurat dan dalam rangka ada keperluan bukan untuk mejeng kesana-sini, seperti untuk menuntut ilmu, ziarah karib kerabat atau teman, membeli kebutuhan keluarga dan sebagainya, kalau jarak memakan waktu satuhari-satu malam maka harus bersama mahram. Wallahu a’lam. (Silahkan baca buku-buku yang berbicara tentang kepribadian seorang muslimah).
***
Penanya: Dyah Permatasari
Dijawab Oleh: Ustadz Ali Musri

Shalat Tarawih Dengan Cepat, Laksana Ayam Mematuk Makanan



Mayoritas imam masjid kurang memiliki akal sehat dan pengetahuan agama yang baik. Hal itu nampak dari cara melakukan shalat. Bahwa hampir semua shalat yang dilakukan, mirip dengan shalatnya orang yang sedang kesurupan, terutama ketika shalat tarawih. Mereka melakukan shalat 23 raka’at hanya dalam waktu 20 menit, dengan membaca surat Al ‘Ala atau Adh Dhuha.
Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh seperti itu, karena ia merupakan shalat orang munafik, sebagaimana firmanNya: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali”. [An Nisa’ : 142].
Bentuk dan cara shalat tarawih yang seperti itu, jelas bertentangan dengan cara shalat tarawih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan ulama salaf. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat”. [Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي
“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. [HR Bukhari, Muslim, Ahmad. Lihat Irwaul Ghalil no: 213].
Ad Darimy meriwayatkan, bahwa Abu Aliyah berkata,”Jika kami mendatangi seseorang untuk menuntut ilmu, maka kami akan melihat ia shalat. Jika ia shalat dengan benar, kami akan duduk untuk belajar dengannya. Dan kami berkata,’Dia akan lebih baik dalam masalah lain’. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka kami akan berpaling darinya dan kami berkata,’Dia akan lebih rusak dalam masalah yang lain”. [As Sunnan Wal mubtadat, Syaikh Muhammad bin Abdussalam, Darul Fikr]
Dan suatu hal yang menguatkan lagi, bahwa demikian itu menjadi perkara bid’ah, karena dikerjakan secara rutin dan permanen pada setiap bulan Ramadhan. Mereka beranggapan, bahwa hal itu merupakan cara terbaik dalam menunaikan shalat tarawih.

 
Oleh: Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin , Lc

Abu Hurairah


Saya yakin, anda pasti kenal shahabat Rasulullah Saw. yang satu ini. Atau masih ada di antara anda yang belum kenal Abu Hurairah? Penghafal 1607 hadits Rasulullah Saw.

Pada masa Jahiliyah orang memanggilnya Abdu Syams (budak matahari). Setelah Allah memuliakannya dengan Islam, Rasulullah saw. bertanya, "Siapa nama anda?"
"Abdu Syams," jawab Abu Hurairah singkat.
"Bukannya Abdur Rahman?" tanya Rasulullah.
"Demi Allah, anda benar. Nama saya Abdur Rahman, ya Rasulullah!" jawab Abu Hurairah setuju.

Tapi, mengapa yang lebih populer nama Abu Hurairah, bukan Abdur Rahman? Padahal nama itu pemberian Nabi Saw. Nama Abu Hurairah adalah nama panggilannya waktu kecil. Waktu itu ia punya seekor kucing betina yang sering diajaknya bermain-main. Oleh karena itu teman-temannya menjulukinya Abu Hurairah.

Setelah Rasulullah Saw. tahu asal-muasal panggilan itu, beliau sering memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab. Dan sebenarnya, Abu Hurairah sendiri lebih suka dipanggil Abu Hirr ketimbang Abu Hurairah. Konon, hirr itu artinya kucing jantan, sedangkan hurairah kucing betina. Menurut Abu Hurairah, kucing janan lebih baik dari kucing betina.

Abu Hurairah masuk Islam melalui Tufail bin Amr Ad-Dausy. Islam masuk ke negeri kaum Dausy kira-kira awal tahun ketujuh Hijriyah. Ketika itu Abu Hurairah menjadi utusan kaumnya menemui Rasulullah Saw. di Madinah. Setelah bertemu Rasulullah, Abu Hurairah memutuskan untuk berkhidmat kepada Rasulullah Saw. dan menemani beliau.

Sejak itu Abu Hurairah tinggal di masjid tempat Rasulullah Saw. mengajar dan mengimami shalat. Selama Rasulullah Saw. hidup, Abu Hurairah belum mau beristri. Mungkin ia khawatir bila beristri, konsentrasinya dalam membantu Rasulullah terganggu.

Abu Hurairah punya seorang ibu yang masih syirik. Tak henti-hentinya ia mengajak ibuya masuk Islam, karena ia amat mencintainya. Tapi, setiap Abu Hurairah mengajak masuk Islam, ibunya selalu menolak, bahkan tak jarang mengeluarkan umpatan yang menghina Rasulullah.

Sambil menangis, Abu Hurairah menemui Rasulullah Saw.
"Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hurairah," tanya Nabi Saw. "Aku tak bosan-bosannya mengajak ibuku masuk Islam. Hari ini kembali kuajak ibuku masuk Islam. Tapi, ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak pantas mengenai engkau. Aku sendiri tak sudi mendengarnya. Tolong doakan agar ibuku mau masuk Islam, ya Rasulullah," pinta Abu Hurairah. Rasulullah Saw. pun memenuhi permintaan Abu Hurairah dan mendoakan agar ibu Abu Hurairah itu masuk Islam.

Suatu ketika Abu Hurairah pulang ke rumah ibunya. Ia bermaksud mengajak ibu yang dicintainya itu masuk agama Allah. Waktu itu pintu rumah tertutup. Tatkala ia hendak masuk, ibuya berkata, "Tunggu di tempatmu, hai Abu Hurairah!"

Mungkin ibunya tengah berpakaian. Sejenak kemudian ibunya menyuruhnya masuk. Ketika telah berhadapan dengan ibunya, ibunya berkata, "Asyahadu an laa ilaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar 'abduhu wa rasuuluh."

Abu Hurairah kembali menemui Rasulullah sambil menangis gembira, sebagaimana sebelumnya ia menangis lantaran sedih. "Bergembiralah wahai Rasulullah! Allah mengabulkan doa anda. Ibuku telah masuk Islam," tutur Abu Hurairah dengan wajah cerah.

Setelah ibunya masuk Islam, hati Abu Hurairah menjadi tenang, seolah-olah terbebas dari himpitan batu besar yang menyesakkan dada. Ia pun bisa berkonsentrasi menimba ilmu dari Rasulullah. Kecintaannya kepada ilmu sama besarnya dengan kecintaannya kepada Rasulullah.

Zaid bin Tsabit pernah bercerita, suatu ketika ia, Abu Hurairah, dan seorang shahabat lainnya berdoa dan berdzikir di dalam masjid. Tiba-tiba Rasulullah Saw. mendatangi mereka. Mereka pun berhenti berdoa dan berdzikir. Rasulullah berkata, "Ulangi doa dan dzikir ang kalian baca!"
Zaid bin Tsabit dan shahabat yang seorang lagi -- bukan Abu Hurairah -- berdoa. Rasulullah mengamini doa mereka berdua. 

Lalu Abu Hurairah berdoa, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagaimana yang dimohon kedua shahabatku ini. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu ang tak dapat aku lupakan." Rasulullah Saw. mengamini doa Abu Hurairah. Zaid dan seorang shahabat yang lain berkata, "Kami juga memohon kepada Allah ilmu yang yang tak dapat kami lupakan." Rasullah berkata, "Kalian telah didahului putra Bani Dausy (Abu Hurairah)."

Allah Swt. mengabulkan permintaan Abu Hurairah. Dia berhasil mengingat dan menghafal 1607 hadits Rasulullah Saw. bagi kaum Muslimin, sehingga dengan hadits-hadits itu berjuta-juta kaum Muslimin hingga akhir kiamat memperoleh petunjuk. Betapa besar pahala Abu Hurairah. Ya Allah, jadikan kami seperti Abu Hurairah.


dari Eramuslim.com

MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH DAN AL-SALAFIYAH



Oleh : Al-Ustadz al-Fadhil Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc
 Ahlussunnah maupun Salafiyah biasa digunakan oleh ulama ahlul hadits untuk menyebut orang-orang yang diselamatkan Allah dari Neraka. Karena itu disebut juga al-Firqotun Najiyah “Kelompok yang Selamat”. Nama-nama itu memang berbeda dan secara bahasa mempunyai arti yang tidak sama.

Yang jelas setiap istilah mempunyai dalil, dan hakikatnya adalah satu yaitu :
“Orang yang mengikuti kami dan sahabat kami.”

Terkenal ungkapan yang mereka usung: kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits/al-Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat/generasi Salaf. Mengapa tidak cukup berdasarkan al-Quran dan al-Hadits saja ? Karena bila tidak berdasarkan pemahaman sahabat bisa terjadi kesalahan dalam memahaminya. Al-Quran dan al-Hadits memang sebagai dasar pijakan umat islam. Lantas apakah setiap orang boleh memahami sekehendaknya ? Kalau ini terjadi tentu setiap orang akan mempunyai pemahaman masing-masing, sebanyak kepala orang.

Karena itulah Islam yang lurus dan benar adalah Islam yang berdasarkan al-Quran dan al-Sunnah sesuai dengan  yang dipahami para Sahabat. Kemudian mengapa pemahaman Sahabat ? Karena para Sahabat hidup pada zaman Nabi dan sekaligus menjadi murid langsung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, mereka tentu lebih mengetahui apa yang dimaksud dalam al-Quran dan al-Hadits. Kemudian para Sahabat mempunyai murid yang disebut dengan tabi’in. Tabi’in ini pun mempunyai murid, yang disebut tabi’ut-tabi’in. Demikian seterusnya mereka melahirkan murid-murid unggulan, yaitu para imam Ahlussunnah. Di antaranya yang  baru saja meninggalkan kita adalah Syaikh al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh Utsaimin, rahimahumullah.

Ahlussunnah atau salafus-shalih tidak bisa diklim hanya milik secara terbatas oleh kelompok, golongan, atau partai tertentu. Seperti muncul gejala sehari-hari Ahlussunnah wal Jama’ah atau Salafiyah seakan-akan milik NU (Nahdhatul Ulama), sementara Ahlussunnah seakan-akan milik Muhammadiyah. Ahlussunnah atau Salafiyah adalah suatu pemahaman yang sesuai dengan pemahaman para Sahabat, baik dalam berakidah (yaitu selalu menjauh dari kesyirikan), dalam bersyari’at (yaitu selalu menjauh dari hal-hal yang bid’ah), dalam berakhlak (yaitu berusaha selalu dengan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), fan tentunya dalam berdakwah (sesuai dengan dakwah para Rasul dan para Sahabat yaitu selalu menekankan tauhid dan menjelaskan tentang syirik). Kalu tidak seperti itu berarti sama saja omong kosong.

Istilah Ahlussunnah wal Jama’ah sudah ada sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pada surat Ali Imran ayat ke-106 disebutkan:
”Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram..”
Yang dimaksud muka yang putih berseri adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, sementara yang dimaksud muka yang hitam muram adalah Ahli bid’ah. Ini adalah penafsiran Ibnu Abbas sebagaimana tercantum dalam Tafsir al-Baghawi Juz II hal. 97 dan Fathul Qadir Juz II hal.10. Ibnu Abbas adalah seorang sahabat muda usia yang didoakan oleh Rasulullah menjadi ahli tafsir.

Dari keterangan tersebut tampak jelas tidak ada perbedaan antara Ahlussunnah dan Salafiyah.

Perlu diketahui bahwa Ahlussunnah secara umum adalah lawan dari Syi’ah, dan secara khusus Ahlussunnah adalah lawan daripada Ahli Bid’ah.

Imam al-Syathibi berkata, ”Sunnah adalah lawan bid’ah. Dikatakan fulan berada di atas Sunnah apabila perbuatannya sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di katakanlah fulan di atas bid’ah apabila perbuatannya menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Asas Manhaj Salaf dalam Da’wah ila Allah hal.25).

Karena itu oula Ahlussunnah disifati sebagai al-Ghuraba’ dan Al-Firqatun Najiyah. Mengapa? Jawabannya adalah :

1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
”Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali lagi menjadi asing. Niscaya beruntunglah orang-orang yang asing.” (Shahih Muslim no.208).

Disini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji orang yang asing karena kebanyakan orang meninggalkan Sunnah dan sedikit saja yang sudi menegakkan Sunnah. Karena amat sedikitnya orang yang berpegang pada Sunnah itulah orang yang berpegang pada Sunnah (Ahlussunnah) dikatakan terasing.

2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberikan berita akan terjadinya
Perpecahan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi 73 golongan disebabkan bid’ah dan hawa nafsu. Allah menetapkan Ahlussunnah sebagai yang selamat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
”Ingatlah! Sesungguhnya kaum sebelum kalian, dari kalangan Ahli Kitab, telah berpecah menjadi 72 millah. Dan sungguh umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya masuk neraka, sementara yang satu berada di dalam surga. Merekalah al-Jama’ah”. (Sunan Abi Dawud no.3981).

Syaikh al-Sa’di berkata, ”Mengapa Ahlussunnah berhak menerima pertolongan? Karena Ahlusunnah wal Jama’ah dan Ahlulhadits telah menolong agama Allah, Kitab-Nya, dan sunnah rosul-Nya. (Asas Manhaj Salaf dalam Da’wah ila Allah hal.26).

Apabila Ahlussunnah dan Salafiyah disifati dengan banyaknya nama nyalah perbedaan dari sisi penyebutan atau istilah. Mereka, semua, hakekatnya satu, setiap nama tidak m engurangi isi dari Ahlussunnah wal Jama’ah. Tidak dibenarkan apabila perbedaan nama penyebutan tersebut menjadikan munculnya perbedaan akidah, manhaj,, atau syariat, karena madzhab Salaf adalah madzhab Sahabat. Dalam praktik kehidupan sehari-hari bisa saja sebagian kalangan/kelompok/jamaah/yayasan yang mengatasnamakan Salaf mengalami penyimpangan dari para Sahabat. Itu artinya mereka memang telah menyelisihi madzhab Salaf dan menganut madzhab yang diikutinya, yakni manusia, sementara manusia jelas bisa salah di samping juga bisa benar, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ (kesepakatan) para Sahabat adalah ma’shum.

Syaikh al-Albani pernah ditanya, apakah Salafiyah itu manhaj atau jamaah?

Syaikh al-Albani memjawa, ”Salafiyah adalah manhaj (jalan/metodologi) bukan jamaah dan bukan tanzhim (organisasi), jadi bukan seperti anggapan sebagaian orang. Menyandarkan kepada manhaj salaf-shalih, baik dalam masalah iman, aqidah, fikih, pemahaman, ibadah, akhlak, pendidikan dan tazkiyah/penyucian jiwa”.

Berkata Syaikh al-Albani, ”Kami terang-terangan memerangi hizbiyah, karena dalam hizbiyah akan terjadi gejala sebagaimana tersebut dalam surat a-Rum ayat ke-32:
”Setiap kelompok akan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka”

Sedangkan hizb (partai) dalam islam hanya ada satu yaitu hizbullah jamaaturrasul. Dengan begitu kita harus mengikuti manhaj Sahabat. Inilah yang diminta oleh Allah, al-Quran, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh al-Albani ditanya, apa hakikat as-salafiyah?.
Beliau menjawab, “Takkala kita menyebutkan as-salaf sesungguhnya yang dimaksud adalah sebaik-baik golongan yang ada di muka bumi ini setelah para nabi dan rasul. Siapakah mereka itu? Mereka adalah para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup pada abad pertama (setelah nabi) kemudian zaman tabi’in yang hidup pada abad kedua, kemudian tabi’ut-tabi’in yang hidup pada abad ketiga setelah nabi”. (Al-Manhaj al-Salafi ’inda Syaikh al-Albani karya Amru Abdulmun’im Sulaim hal. 13).

Menurut Syaikh al-Albani tiga qurun (abad) di atas tersebut, secara mutlak, merupakan sebaik-baik zaman dan merekalah sebaik-baik umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau kita intima’ (loyal) kepada Salaf berarti kita intima’ (loyal) kepada sebaik-baik zaman, bukan kepada person atau jama’ah. Kalau person atau jama’ah semuanya bisa salah atau sesat; sebagian atau semuanya.

Syaikh al-Albani berkeyakinan bahwa mengikuti manhaj Salaf adalah dharuri (keharusan) baik amalan dan i’tiqad. Sementara itu menyandarkan nama kepada Salaf –contoh klaim kami beraqidah Salaf atau bermanhaj Salaf- tanpa bukti pengamalan, berarti omong-kosong, seperti nama tanpa sifat. (Tidak berbeda orang yang bernama atau menamakan diri muttaqin tetapi perbuatannya jauh dari nilai taqwa).

Syaikh al-Albani berkata, ”Semua firqoh selain fiqah najiyah –sebagaimana disebut dalam hadits (perpecahan umat)- mengatakan telah berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, entah kelompok Jahmiyah, Khawarij, Mu’tazilah, Syi’ah dan selainnya. Kelompok-kelompok ini pada umumnya mengaku intima’ (loyal) dan mengklaim berdasarkan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, tetapi setelah dicek dilihat dengan betul ternyata justru menyelisihi Alussunnah (tidak melaksanakan sunnah), bahkan melakukan bid’ah, menyelisihi Sahabat & imam Ahlussunnah dan menyelisihi jalan kaum Muslimin”. (Al-Manhaj al-Salafi ’inda Syaikh al-Albani karya Amru Abdulmun’im Sulaim hal. 16).

Syaikh al-Albani, ”Tidaklah tercela orang yang menampakkan atau mengumumkan madzhab Salaf, menyandarkan kepadanya, dan mengagungkannya, bahkan wajib diterima karena madzhab Salaf adalah madzhab yang benar”.

Syaikh al-Albani berkata, ”Sebagian orang menyangka bahwa kata Salf tidak ada berasal dari nabi dan dia berkata bahwa seorang muslim tidak boleh mengatakan saya ’muslim salafi’. Seakan-akan dia melarang orang muslim berkata saya mengikuti salafusshalih dalam akidah, ibadah, dan akhlak”.

Tidak diragukan bahwa orang yang mengingkari Salaf tidak ubahnya seperti mengilzamkan atau menyuruh orang untuk bara’ (berlepas diri) dari Islam yang benar yaitu Islam salafus-shalih yang imannya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tersebut dalam hadits yang sahih :
Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka”. Shahih al-Bukhari no.2458.

Kata Salaf sudah dikenal baik dari segi bahasa atau istilah/syariat, sebagaimana tersebut dalam hadits shahih dari nabi bahwa menjelang wafatnya beliau pernah berkata Sayyidah Fathimah,
Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik salaf/pe ndahulu bagimu adalah saya”. (Al-Manhaj as-Salafi ’insa Syaikh al-Albani karya Amru Abdulmun’im Sulaim hal.17).

Islam tidaklah melarang orang mengikuti madzhab dari berbagai madzhab yang ada, baik dalam akidah maupun fikih seperti zaman ini. Yang tidak bolah ada sikap ta’ashub (fanatik buta madzhab/kelompok) terhadap imamnya seperti dalam masalah fikih madzhab Syafi’i, Hambali, Hanafi, dan Maliki, atau dalam berakidah dengan madzhab Asy’ari atau Maturidiyah.

Semua imam Ahlussunnah berwasiat kepada murid-murudnya, ambillah hadits yang shahih dan tinggalkanlah perkataan yang menyelisihinya. Yang jelas selama masih menjadi manusia tidak akan ma’shum tapi kalau umat Islam berpegang pada manhaj Salaf berarti berpegang pada manhaj yang ma’shum. Untuk itulah para imam, termasuk imam madzhab yang empat, tidak mengajarkan kepada orang sikap kefanatikan terhadap pendapatnya.

Imam Malik berkata, ”Setiap orang bisa diambil pendapatnya bisa pula ditolak pandangannya, kecuali orang yang berada di dalam kubur ini [maksudnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam]”.

Imam Syafi’i, ”Jika ada hadits yang sahih, itulah madzhabku (pendapatku)”.

”Hendaklah kalian memperhatikan Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang Rasyid setelahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan geraham (pegang prinsip itu kuat-kuat)”. (Tuhfatul Ahwadzi juz II hal. 57).

Demikian harapan kami semoga dengan tulisan ini bisa mengubah sikap perilaku kita baik dalam akidah, ibadah, akhlak, dan manhaj menjadi lebih baik lagi.