Selasa, 01 Januari 2013

Definisi Wahabi(bantahan)


[Definisi Wahabi?]


“Di kampung ane parah. Ada penceramah [baca: kyai] kondang diundang ke kampung buat ceramah.
Ceramahnya emosional. Sampai di akhir ia berdoa: ‘ALLAAHUMMAL’AN WAHHABIYYIIN’ [Ya Allah, laknatlah orang2 Wahabi]. Masalahnya, ia adalah kyai terkenal, tapi kok melaknat begitu!?”
Di atas adalah seonggok cerita dari seorang teman sekelas di kampus, yang ia bukan seorang Wahaby [juga saya dan Anda], tentu saja muslim [juga saya dan Anda].
Pertanyaan ini selalu ada:
–> Apakah Wahaby itu?
–> Siapakah Wahaby itu?
Ada beberapa kisi-kisi:
·         http://nahimunkar.com/wp-content/uploads/2012/06/823642.jpg
Hasan Al-Jaizy ‎1. “Wahabi adalah orang yang jenggoten”
Dalil: Ada ustadz pengajian dan majelis ta’lim menjelek-jelekkan lelaki yang berjenggot ; karena itu adalah ciri khas orang2 Wahaby.
Tanggapan: Rusak sekali. Bahwa Nabi, para sahabat, tabiin sampai beberapa kyai NU di masa lampau itu masyhur jenggoten. Ngakak berguling-guling lah kita kalau mereka semua disebut ‘Wahabi’.
·         http://nahimunkar.com/wp-content/uploads/2012/06/823642.jpg
Hasan Al-Jaizy ‎2. “Wahabi adalah orang yang cingkrangen”
Dalil: Masyhuur
Tanggapan: Tetap rusak. Karena ikhwan2 Jama’ah Tabligh juga memenuhi persyaratan ke-Wahabi-an: jenggoten dan cingkrangen. Namun mereka tidak tahu apa itu Wahabisme. Yang di fikirannya sebatas khuruj untuk dakwah, bagaimana caranya tinggal di masjid orang, dan…apa lagi?
Plus, beberapa tokoh Dragon Ball tidak pernah tahu Wahabisme. Ninja Hatori, dalam perjalanan mendaki gunung lewati lembah tak pernah disangka sebagai seorang Wahaby. Apalagi Wiro Sableng 212. Alih-alih disebut Wahabi, wong ngaji aja belum tentu bisa kok. Tapi, mereka semua cingkrangen!
·         http://nahimunkar.com/wp-content/uploads/2012/06/823642.jpg
Hasan Al-Jaizy ‎3. “Wahabi adalah yang jenggoten, cingkrangen, suka membid’ahkan dan mengkafirkan kaum muslimiin”
Tanggapan: Mau berapapun persyaratan untuk masuk ke definisi Wahabi, tetap saja rusak. Wong otak orang2 anti-Wahabi saja sebenarnya sudah mulai rusak; cuma ga sadar saja. Nah, karena rusaknya itu, jadi lebay. Lebay dalam beribadah dan lebay dalam memahami perkataan orang.
Jadi, ketika ada orang yang mengatakan Maulid itu bid’ah [misalnya], langsung disebut ‘Wahabi’? Lho, sebagian teman2 Ikhwani juga mengatakan ‘Merayakan hari Ulang Tahun Nabi itu bid’ah’ [meskipun bagi mereka: merayakan hari ulang tahun partai itu tidak bid'ah =DOR!]. Apakah mereka Wahabi? Tentu saja tidak!
Dan mengkafirkan ini seperti apa maksudnya ya? Kalau mengatakan: ‘Orang2 Syi’ah [Imamiyyah] itu kafir; karena mereka menuhankan Ali dan para imam, mencela sahabat dan menuduh Al-Qur’an telah dirubah’, ini adalah perkataan orang2 muslim keseluruhan. Oh iya, saya lupa kalau dedengkotnya sampeyan itu 11-12 dengan Syi’ah.
·         http://nahimunkar.com/wp-content/uploads/2012/06/823642.jpg
‎4. “Wahabi adalah yang berseberangan dengan Aswaja”
Tanggapan: Nah, ini dia yang kudu lebih digali lagi. Aswaja di sini Ahlus Sunnah versi siapa?
Jangan sampai ada monyet mengaku-ngaku sebagai nenek moyang manusia demi mengangkat harkat-martabat monyet.
Masalahnya, sekarang ada kelompok orang-orang yang merasa PALING BENAR, PALING BERILMU dan PALING BERKUASA UNTUK BERIBADAH mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah, padahal mereka ini Ahlul Bid’ah wal Jama’ah [Abwaja].
=> Mereka ini merasa paling benar sendiri; karena ga mau diprotes, dikritik padahal kritikannya disertai ayat Al-Qur’an dan Hadits.
=> Mereka juga merasa paling berilmu. Ada juga yang mengklaim berilmu karena mendapat sanad langsung; atau mendapat mimpi dari Rasul dsb. Benar, mereka adalah orang berilmu; karena mengilmui bagaimana caranya menipu.
=> Mereka juga paling berkuasa untuk beribadah. Lihat saja majelis dzikir dan ta’lim nya. Sudah mirip konser dzikir; ilmunya ga dapet. Kelihatannya berkuasa sekali di malam-malam berisik, gaduh, kampungan dan songong.
Apakah Aswaja yang dimaksud adalah yang tersifati seperti di atas ini?
Jika ‘iya’, maka banyak sekali orang2 Wahaby di dunia ini. Karena saya, keluarga saya, teman2 saya dan puluhan ribu orang berakal lainnya, mual melihat kelompok di atas. Dan kita semua berseberangan dengan mereka.
·         http://nahimunkar.com/wp-content/uploads/2012/06/823642.jpg
Beberapa kalimat:
STEP 1 => “Wahabi adalah orang2 yang merasa paling benar!”
STEP 2 => “ASW menyalahkan semua Wahabi!”
STEP 3 => “Orang yang menyalahkan orang yang merasa paling benar adalah orang merasa lebih benar daripada orang yang merasa paling benar”
STEP 4 => “ASW merasa lebih benar dari Wahabi yang merasa paling benar [menurut mereka]”
KESIMPULAN: “ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar…merasa lebih benar dari siapapun”
***
Mengulangi kebodohan lamanya
Kalau ada yang gregetan terhadap kesimpulan Hasan Al-Jaizi menyangkut kelompok yang mengklaim dirinya Aswaja lalu dikomentari Hasan dengan: “ASW merasa lebih benar dari Wahabi yang merasa paling benar [menurut mereka]”
KESIMPULAN: “ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar…merasa lebih benar dari siapapun”;
maka silakan membandingkan. Antara syiah dengan Wahabi, kelomppok yang dikomentari itu lebih pro mana. Lebih pro aliran sesat syiah kan? Jadi itu hanya mengulangi kebodohan lama, yakni dalam sejarahnya, kaum Aswaja itu sudah pro PKI namun dibunhi dan jadi sasaran pembunuhan oleh PKI. Itulah kisah lama yang sikap bodohnya terulang lagi. Dulu pro PKI kini tampkanya cenderung pro aliran sesat syiah, walau malah jadi sasaran ancaman syiah pula. Anehnya, kalau diingatkan, malah galakan mereka. Karena seperti dalam kesimpulan Hasan tersebut  “ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar…merasa lebih benar dari siapapun”.

Susunan Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al Ikhlas Periode 2011-2012

Penanggung Jawab      :  Drs.H.Acep Wiharsa
Pembina           :  Drs.Ahmad Suja’i
Penasihat Harian       : Yusuf Maulana Tahir
Ketua                           : Muhammad Nur Rizki Rahmatullah
Wakil         : Arief Gutama
Sekretaris                    :1.Muhammad Andzar : 1.Muhammad Andzar
                                       2.Gusandry Luhur Pintoko 2.Gusandry Luhur Pintoko
Bendahara                 : 1.Robby Kurniawan
                                      2.Angel Hidayanti  2.Winda
Sie Kebersihan           :1.Zakaria : 1.Febri
                                      2.Hermawan 2.Octavia
3.Andika
4.Hermawan
5.Zakariya
Sie Dakwah                :1.Anggi : 1.Anggi
                                      2.Miskarofa 2.Miskarofa
                                      3.Yudistira 3.Yudistira
4.Muammar Fadli
Sie Peralatan              :1.Lukman : 1.Amirulloh
                                      2.Febri 2.Muhammad Aldi
3.Muhammad Rizki Fauzi.P
4.Ridwan
Sie Mading                 :1.Rif’an : 1.Rif’an
                                  2.Egi
                                     3.Ahmad.R.Fauzi 3.Ahmad.R.Fauzi
4.Dinda Melati
Sie Ibadah : 1.Lukman
2.Kusumah Yustiani
3.Ria Rismawati
4.Angel Hidayanti













Mengenal sedikit para anggota, pengurus dan alumni Rohis

oleh : Ukhti Rani
assalamu 'alaikum..
sobat ,
gua mau menceritakan tetang kegiatan ROHIS di SMAN 1GUNUNGPUTRI .
sebelum gua mau ngenalin dulu ni BPH nya . untuk angkatan kita sendiri ada sekita 96 anggota ROMANSA.
..

he.he.he
ngambil fotonya ga formal gak apa apakan ?
oke,, yang cwo itu Namanya Andri Prayoga dia ketua ROHIS kita angkatan 2012-2013 , yang sampingnya itu gua , gua dipilih sebagai SEKERTARIS umum . samping gua itu Indah Dwi L. sebagai SEKERTARIS 1 . sampingnya lgi itu Winda Tri W. sebagai BENDAHARA umum.


Nah,, kalau mereka ini biangnya narsis , dikit dikit foto udah gitu pake kamer siapa aja lagi he.he.he liat aja tuh gaya mereka berdua .. hihihi damai ya yus n bay
namanya Kusuma Yustiani sebagai BENDAHARA 1 dan Bayu sebagai seksi ZIARAH.






Sobat ,, sebelum gua dan yang lain menjadi penguruh ROHIS ada yang lebih SENOIR lho ..
itu tuh yang pake baju coklat manisss kan dia . Namanya Ai Siti Maesaroh sebelum lengser di menjabat sebagai KETUA ROHIS angkatan 2011-2012. Dia juga salah 1 tauladan kita selama di ROHIS.
sampingnya ka Mae yang jangkung itu namanya Gusandry , mmm ... sobat kalau kalian tau ya dia itu lebih narsih , hadduh .. haduh .. kalau ada dia pasti deh RUSUH .
sampingnya Gusandry itu Sendhi Amalia sebagai anggota.





Sobat , mereka bertiga nih , orangnya ramah , pendiem ..
upss . pendiem dalam ha apa nih ,, huu ... mereka bertiga cuman muka duank kayanya pendiem aslinya super kocak .. he.he.he.he peace ya kawan
kurdung coklat itu Siti Nurasiah (Aas) , yang tengah itu Ria Rismawati  sebagai KETUA 1 , yang ujung itu Indah Dwi L. sebagai SEKERTARIS 1.






Inilah Foto anggota dan pengurus ROHIS TP 2012-2013



Pak Ketua dengan para dayang-dayang ikhwan mukminin.
amiin

nah , ini beberapa foto para alumni ROHIS
sobat , yang ditengah itu dalah pembina kami bernama BPK Drs.Ahmad Suja'i
sering kita sapa dengan sebutan ABI




 Foto - foto saat mengunjungi masjid ISTIQLAL di ibukota Jakarta .




Oke kawan cukup sekian pengenalan Pengurus dan Anggota Rohis .

Adab Menguap dan Bersin


Penulis: Ummul Husain
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Artikel muslimah.or.id


Kebanyakan dari kita, mungkin beranggapan bahwa ibadah hanyalah sebatas pada shalat, puasa, haji, dan zakat. Padahal ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu ibadah yang telah diremehkan oleh sebagian kaum muslim adalah menjaga adab-adab yang telah diajarkan oleh Islam. Adab-adab tersebut memang terkesan sepele, tetapi jika kita mengamalkannya dengan niat beribadah dan dengan niat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amal tersebut akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Salah satu adab islami yang sudah banyak ditinggalkan kaum muslimin adalah adab ketika bersin dan menguap. Banyak kaum muslimin saat ini yang tidak mengetahui adab ini. Ketika bersin, banyak di antara mereka yang tidak mengucapkan “alhamdullillah”. Mungkin itu disebabkan mereka lupa atau tidak mengetahui keutamaannya.
Demikian pula ketika ia menguap, seharusnya seorang muslim menahannya semampu mungkin. Akan tetapi, banyak dari kita, membuka mulut lebar-lebar saat menguap, sehingga semua orang pun bisa melihat seluruh isi mulutnya. Ada pula yang ketika menguap, mengucapkan ta’awudz, padahal perbuatan semacam ini sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya jika seorang muslim mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika seorang muslim meneladani Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah pasti manusia akan berlomba-lomba melaksanakan adab-adab yang telah diajarkan oleh Islam ini. Meskipun hal tersebut dalam perkara yang remeh di mata manusia.
Sesungguhnya Allah Membenci Menguap
Jika kita mengaku muslim dan mengaku bahwasanya kita mencintai Allah, maka salah satu konsekuensinya adalah mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah, serta membenci dan menjauhi segala sesuatu yang dibenci oleh Allah. Salah satu perkara yang dibenci oleh Allah adalah menguap. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdullillah’). Dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya. Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya.” (HR Bukhari)
Allah membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah. Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, terlebih-lebih ketika pada waktu shalat. Para nabi tidak pernah menguap, dikarenakan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah.
Tahanlah Semampumu
Jika seseorang ingin menguap, maka hendaklah dia menahannya sebisa mungkin, atau dengan menutup jalan terbukanya mulut dengan menggunakan tangannya. Hal ini sesuai dengan hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)
Ketika seseorang ingin menguap hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, karena menguap adalah salah satu perbuatan yang buruk.
Sesungguhnya Allah Mencintai Orang yang Bersin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai bersin.” (HR Bukhari)
Bersin merupakan sesuatu yang disukai karena bersin dapat menyehatkan badan dan menghilangkan keinginan untuk selalu mengenyangkan perut, serta dapat membuat semangat untuk beribadah.
Ketika Bersin Hendaknya Kita…
1.    Merendahkan suara.
2.    Menutup mulut dan wajah.
3.    Tidak memalingkan leher.
4.    Mengeraskan bacaan hamdalah, walaupun dalam keadaan shalat.
Macam-Macam Bacaan yang Dapat Kita Amalkan Ketika Bersin
·         Alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah).
·         Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam).
·         Alhamdulillah ‘ala kulli haal (segala puji bai Allah dalam setiap keadaan)
·         Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi, mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbuna wa yardhaa” (segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak lagi penuh berkah dan diberkahi, sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami).
Tunaikanlah Hak Saudaramu
Islam adalah agama yang sangat indah, dan salah satu keindahan agama ini adalah memperhatikan keadilan dan memberikan hak kepada sang pemiliknya. Salah satu hak yang harus ditunaikan oleh seorang muslim dan muslimah kepada muslim dan muslimah yang lain adalah ber-tasymit (mendoakan orang yang bersin) ketika ada seorang dari saudara atau saudari kita yang muslim bersin dan ia mengucapkan ‘alhamdullillah’.
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka datanglah, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah nasihat, jika ia bersin lalu ia mengucapkan alhamdullilah maka doakanlah, jika ia sakit maka jenguklah, jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR Muslim)
Ketika ada seorang muslim bersin di dekat kita, lalu dia mengucapkan “alhamdullillah,” maka kita wajib mendoakannya dengan membaca “yarhamukallah” (semoga Allah merahmatimu). Hukum tasymit ini adalah wajib bagi setiap orang yang mendengar seorang muslim yang bersin kemudian mengucapkan “alhamdullillah.” Setelah orang lain mendoakannya, orang yang bersin tadi dianjurkan untuk mengucapkan salah satu doa sebagai berikut:
Yahdikumullah wa yushlih baalakum (mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian).
Yaghfirulahu lanaa wa lakum (mudah-mudahan Alah mengampuni kita dan kalian semua).
Yaghfirullaah lakum (semoga Allah mengampuni kalian semua).
Yarhamunnallah wa iyyaakum wa yaghfirullaahu wa lakum (semoga Allah memberi rahmat kepada kami dan kamu sekalian, serta mengampuni kami dan mengampuni kalian).
Aafaanallah wa iyyaakum minan naari yarhamukumullaah (semoga Allah menyelamatkan kami dan kamu sekalian dari api neraka, serta memberi rahmat kepada kamu sekalian).
Yarhamunnallah wa iyyaakum (semoga Allah memberi rahmat kepada kami dan kepada kalian semua).
Mereka Tidak Berhak Mendapatkannya
Kita tidak perlu bertasymit ketika:
1.    Ada seseorang yang bersin, dan dia tidak mengucapkan hamdalah.
2.    Ada seseorang yang bersin lebih dari tiga kali. Jika seseorang bersin lebih dari tiga kali, maka orang tersebut dikategorikan terserang influenza. Kita pun tidak disyariatkan untuk mendoakannya, kecuali doa kesembuhan.
3.    Ada seseorang membenci tasymit.
4.    Seseorang yang bersin itu bukan beragama Islam. Walaupun orang tersebut mengucapkan hamdalah, kita tetap tidak diperbolehkan untuk ber-tasymit, karena seorang muslim tidak diperbolehkan mendoakan orang kafir. Jika orang kafir tersebut mengucapkan alhamdulillah, kita jawab “Yahdikumullah wa yushlih baalakum
5.    Seseorang yang bersin bertepatan dengan khutbah jumat. Cukup bagi yang bersin saja untuk mengucapkan hamdalah tanpa ada yang ber-tasymit, karena ketika khutbah jum’at seorang muslim wajib untuk diam. Begitu pula ketika shalat wajib (shalat fardhu) sedang didirikan, tidak ada keharusan bagi kita untuk ber-tasymit.
6.    Kita berada ditempat yang terlarang untuk mengucapkan kalamullah, seperti di dalam toilet.
Saudariku marilah kita bersama-sama mengamalkan sunnah (tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mulia ini. Mulailah untuk membiasakan diri melakukannya di tengah-tengah keluarga, teman-teman, dan masyarakat di sekitar kita. Beritahukanlah kepada saudara-saudari kita yang lain untuk ikut mengamalkannya, karena sesungguhnya di dalamnya terdapat karunia yang sangat besar. Bahkan dahulu kaum yahudi pun pernah berpura-pura bersin di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam demi mendapatkan karunia yang besar itu, melalui doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, seharusnya kita sebagai muslim dan muslimah lebih bersemangat lagi untuk mendapatkannya. Sangat disayangkan jika karunia yang sangat besar itu kita tidak mendapatkannya. Bukankah demikian, wahai Saudariku?

Wallaahu ‘alam bish shawaab.

Maraa’ji’ :
Adab Menguap dan Bersin, Ismail bin Marsyid bin Ibrahim ar-Rumaih, Pustaka Imam Asy-Syafi’I, Bogor.
Sepuluh Hak Dalam Islam, Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, penerbit: Pustaka Al-Minhaj, Sukoharjo.
Matan Hadits Arba’in An-Nawawiyah, Imam An-Nawawi
***
Artikel muslimah.or.id

Hukum Merayakan Tahun Baru




Sejarah Tahun Baru Masehi
Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaantahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.
Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité),hal. 399-400)
Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.
Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.
Tahun Baru = Hari Raya Orang Kafir
Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah:
Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,
من تشبه بقوم فهو منهم
Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,
من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة
“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”
Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,
يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق …
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)
Ketiga, Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,
قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر
Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).
Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.
Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.
Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),
و الذين لا يشهدون الزور …
Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…
Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang
 kafir berarti dia bukan orang baik.
Artikel www.KonsultasiSyariah.com