3/2/2012 |
09 Rabiul Awwal 1433 H | Hits: 1.175
dakwatuna.com
– Jika kita
berbicara tentang tema pacaran, tentu tidak asing lagi bagi muda
mudi yang sudah memasuki masa pubertas, masa di mana seorang pemuda sudah
mulai mengenal arti kecantikan seorang wanita, dan begitu juga sebaliknya,
seorang wanita sudah mulai mengenal arti ketampanan seorang pemuda. Masa muda
adalah masa yang labil, masa yang penuh dengan bermacam fenomena, masa di mana
seorang anak manusia cenderung kearah pencarian jati diri, pengakuan dari
individu luar, ingin tau banyak hal tentang kehidupan, serta membutuhkan rasa
kasih sayang dari individu yang ia anggap mampu memberikan hal tersebut selain
orang tua, yaitu lawan jenisnya. Salah satu fenomena itu ialah yang populer di
sebut pacaran.
Definisi
pacaran memiliki makna tersendiri serta dalam lingkup yang sangat luas, bahkan
bisa dikatakan “pacaran” bukan bahasa definitive yang bisa dipakai untuk
mewakili fenomena yang terjadi terhadap muda mudi tersebut, karena
pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang sesuai dengan pengalaman
sosio-kulturalnya.
Asal kata
“pacaran” dalam bahasa Indonesia adalah “pacar”, yang memiliki arti, “kekasih”
atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan
cinta-kasih. Yang kemudian mendapat imbuhan –an atau ber-an yang arti
harfiahnya “bercintaan”; (atau) “berkasih-kasihan” (dengan sang pacar).
Kemudian
Wikipedia mendefinisikan kata “pacaran” sebagai proses perkenalan antara dua
insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan
menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan “pernikahan”. Yang pada
kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang
sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi
persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang
semestinya tidak mereka lakukan. Maka tidak sedikit hal itu disalahartikan oleh
kalangan muda mudi yang mengidolakan pacaran tersebut dengan melakukan
tindakan-tindakan yang sangat jauh dari norma sosial, kesopanan, apalagi agama.
Lalu
bagaimana Islam sebagai agama menyikapi fenomena ini, yang mau tak mau bisa
saya katakan remaja atau muda mudi Islam saat ini hampir kebanyakan mereka
menjalani lakon di atas, baik yang Islamnya hanya tertera di KTP sampai kalangan
yang bisa dikatakan memiliki latar belakang pendidikan agama yang cukup mumpuni
seperti para santri, ustadz, mahasiswa perguruan tinggi Islam, aktivis Islam,
dan lain sebagainya yang menggeluti dunia keislaman, dengan bermacam istilah
lain yang mereka gunakan dalam mengartikan hal tersebut.
Islam
mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Karena itu adalah
fitrahnya. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah
Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
Mari kita telusuri hal ini dalam arti firmannya di bawah ini:
“Dijadikan
terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan
perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali Imran: 14).
Kitab suci
Al-Qur’an tidak menafikan hal itu bukan? Tapi, cinta yang bagaimana termasuk
kategori di atas, yakni cinta yang mampu memberikan rasa indah dalam pandangan
manusia? Apakah cinta yang dibalut dengan istilah pacaran di atas
termasuk kategori ayat tersebut?
Sahabatku
para remaja muslim, dalam agama Islam kita dianjurkan untuk menjaga pandangan dan
memelihara kemaluan agar kita tidak terjerumus ke dalam lembah ajakan setan
laknatullah, karena setan selalu mengajak anak manusia untuk ingkar kepada
Allah dan syariat yang dibawa oleh utusannya Nabi besar Muhammad SAW. Hal
ini dijelaskan dalam al-Qur’an:
“Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada
wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya…..” (QS. An-Nur:
30-31)
Dalam ayat
yang lain kita dilarang mendekati zina.
“Dan
janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. al Israa’: 32)
Setujukah
kalian wahai para remaja muslim jika saya katakan pacaran itu adalah jalan
(mendekati) untuk melakukan perbuatan zina? Coba kita perhatikan apa saja yang
sering dilakukan oleh orang yang sedang berpacaran. Bukankah kalau berpacaran
itu tak jauh dari bermesraan, berdua-duaan di tempat gelap, saling berpegangan
tangan, ciuman atau berpelukan, dan terakhir berbuat zina? Jika memang itu yang
terjadi, yuk kita simak dalam sabda nabi:
“Janganlah
sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan seorang perempuan kecuali
ditemani oleh mahram-nya”. (HR. Imam Bukhari)
Dalam hadits
riwayat Imam Ahmad, disebutkan pula:
“Janganlah
sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal
baginya, karena orang yang ketiganya nanti adalah syaithan, kecuali kalau
ada mahramnya”.
Sahabatku
para remaja muslim, adakah pacaran tanpa hal-hal negatif di atas? Tanpa bermesraan,
tanpa pegangan tangan, ciuman, pelukan dan seterusnya. Saya rasa tidak ada,
kenapa? Karena pacaran itu menurut saya hanya cinta kasih yang hanya
mengedepankan hawa nafsu belaka, keegoisan, dan rasa ingin memiliki saja.
Remaja muslim jangan tergiur oleh istilah pacaran Islami, ta’aruf, atau
apalah namanya, karena tipu muslihat setan itu sangat halus saudaraku. Sungguh
aneh jika ada yang mengatakan “kita boleh berpacaran asal itu dilakukan secara
islami, mencintai karena Allah”. Rasanya sangat lucu sekali jika selepas
melakukan hubungan vertikal kepada Allah (shalat) kemudian kita melakukan
hubungan horizontal kepada sang pacar dengan bermesraan lewat telepon, sms,
atau lewat jejaring sosial. Sangat aneh jika setelah membaca mushaf kemudian
kita membaca surat dari sang pacar, pergi ke majelis ta’lim berduaan pakai
motor, dsb. Akhirnya STMJ (shalat terus maksiat pun jalan) na’udzubillah
min dzalik.
Janganlah
kita mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan hanya demi sang nafsu yang tak
pernah kenyang. Tundukkanlah pandangan terhadap lawan jenismu, agar kau bisa
selamat. Karena pandangan itu tak ubahnya seperti sebilah anak panah yang
beracun, jika kau lepaskan ia dari busurnya maka ia akan mengenai hatimu yang
selanjutnya akan membinasakanmu dengan racun tersebut. Ingatlah bahwa nafsu
hanya bisa dikalahkan dengan rasa takut kepada Allah, dengan mendekatkan diri
kepadanya. Semoga Allah memelihara kita semua dari fitnah zaman ini. Amin
yaa robbal a’alamiin






0 komentar:
Posting Komentar